Anak Obesitas Cenderung Lakukan Seks Bebas

Obesitas pada anak memang sebuah permasalahan serius jika tidak segera ditangani. Bukan hanya berdampak pada kesehatan, tetapi juga dampak psikologis.

Menurut penelitian tim dari Medical University of South Carolina, seperti dikutip dari Shine, anak perempuan yang mengalami obesitas cenderung berisiko melakukan hubungan seksual berisiko saat dewasa.

Dari penelitian diketahui anak perempuan yang obesitas memiliki kemungkinan jauh lebih besar berhubungan seks lebih awal, tanpa kondom dan dengan beberapa pasangan. Hal ini membuat mereka berisiko tinggi tertular penyakit kelamin, kanker bahkan HIV/AIDS.

Jangan panik dulu jika Anda memiliki anak perempuan yang mengalami obesitas. Ada empat pencegahan yang bisa Anda lakukan sebagai orangtua, agar risiko tersebut bisa ditekan.

1. Berbicara tentang seks sebelum anak puber
Dulu mungkin puber dialami saat anak berusia 11 atau 12 tahun. Tapi, saat ini mulai usia 7 tahun, banyak anak perempuan yang mengalami haid. Untuk itu sebaiknya bicarakan secara terbuka tentang seks dan risikonya, haid, dan hal kewanitaan lainnya yang akan mereka alami. Hal ini untuk mempersiapkan dirinya dan mencegah mereka melakukan perilaku seks berisiko.

2. Budaya makan sehat
Untuk mengendalikan nafsu makan pada anak, sebaiknya dimulai dari makanan yang Anda siapkan. Jangan menyediakan camilan berlemak atau dengan kadar gula tinggi pada lemari makan. Cobalah untuk membuat kebiasaan makan sehat di keluarga. Hal ini akan sangat berpengaruh pada kebiasaan makan anak.

3. Ekspresikan emosi
Ajarkan anak untuk melampiaskan emsoi dan perasaannya. Hal ini untuk pembentukan kepribadiannya agar tidak tertutup dan melampiaskan pada makanan atau pada hal negatif lainnya. Jangan segan juga untuk menceritakan perasaan Anda pada anak. Dengan begitu mereka akan terbiasa mendengarkan orang lain.

4. Jangan menyerah
Untuk mengatasi masalah obesitas pada anak memang tidak mudah. Seringkali orangtua tidak tega dan ‘menyerah’ memberikan makanan yang diinginkan anak padahal berisiko pada kesehatan anak. Untuk itu, minta dukungan orang sekitar, dan jangan segan untuk berkonsultasi pada ahli gizi dan psikolog.

sumber: VIVAnews

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: